myself · random things · relationship · Uncategorized

Sebuah Pemikiran

Kenapa ya… kenapa ada orang yang level kesopanannya luar biasa?
Oke sebenernya juga udah tau jawabannya sih. Ya banyak kali lah faktornya. Pola asuh, lingkungan, pendidikan, karakter.
Yang paling misterius yang terakhir sih karakter. Karena ini dididik biasa aja, kalo bawaannya sopan ya sopan aja. Makanya ajang-ajang pageant suka mengutamakan attitude. Bodoh bisa belajar dan dalam waktu singkat berubah jadi pintar. Tapi merubah karakter belum tentu meski dilakukan seumur hidup.
Saya mengklaim diri saya ekstrovert, suka kenalan sama orang baru, ngobrol, tukar pendapat, punya pengalaman baru. Tapi akhir-akhir ini kok suka serem sendiri, dan jadi lebih paham kenapa ada orang yang karakternya introvert, males ngomong apalagi dealing sama orang, ga tau mesti gimana. Karena kita ga pernah tau, standar kita sama atau nggak dengan orang tersebut. Apa yang kita omongin diterima sama nggak dengan maksudnya kita.
Makin dewasa ga butuh temen banyak-banyak, ya kalo bisa tulus semua, kalo nggak? Makanya itu, hati-hati. Itu aja masih sering kepleset. Sayangnya hidup ini bukan main drama yang bisa di take ulang kan. Sekali kepleset ya sudah sih kudu terima resikonya.
Saya masih suka kepeleset menilai orang dari penampilannya, dari luarannya. Tapi ada orang yang setelah 5 tahun saya hidup dengannya (eciye taulah ya sapa) tidak pernah mengomentari hal-hal seperti itu. ((Makanya mau sama aku :))
Kalau beliau kirim foto kadang jempol ini kepeleset, bii endutan yah, bii kok iteman banyak project di luar ruangan yah, bii kacamatanya baru yah. Ngomentarin hal-hal yang gak substansial, hal-hal yang sifatnya kulit.
Saya baru sadar (5 tahun ya buuk pingsannya) waktu beliau kirim foto saya di-candid-in bapak.
Komen saya: bii muka aku lepas kontrol banget deh
Sementara beliau komen tentang momen yang jadi nyawa foto tersebut. Beliau ga melihat eskpresi muka estrinya kok mencep amat kek tachik-tachik mau kulakan. He know that’s my naturally expresion when im talking seriously to someone. Malu deh rasanya.
Saya ga pernah kepikir gimana perasaan beliau setiap kali saya komen fotonya. Duh jadi sedih. Ingin ditarik kembali tapi kan ga bisa ya, pesan whatsapp aja pasca 7 menit ga bisa di delete apalagi omongan.
Entahlah hal kayak gini aja bikin saya jadi mikir. Banget. Makanya di agama disebut, kalo mau diitung dosanya manusia itu setinggi gunung, bisa lebih lagi. Padahal manusianya cuman segedhe apaan tau #autosholattobat
Jadiiii, buat yang pernah merasa tersinggung karena ucapan saya atau komenan saya yang sifatnya gak substansial. Saya minta maaf sedalam-dalamnya. Saya dengan senang hati menerima kritik dan saran yang bersifat membangun. Tapi tidak menerima julidan. Itu sih gak membangun karakter, membangunkan emosi iya. Please sama-sama kita bergandengan tangan untuk revolusi mental. #bukankampanyepresidencumanminjemistilah Make a better world. Making a peaceful life.
Dariku, yang masih terus usaha belajar memperbaiki diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s